"Revan?" Jor menoleh, matanya menyipit. "Apa yang kau lakukan? Kita hampir menghabisinya. Biarkan aku—"

"Tutup mulutmu," potong Revan dengan nada tajam, menghentikan Jor di tengah kalimatnya. "Kalian sudah gagal."

Nesa, yang masih terhuyung akibat luka di bahunya, menatap Revan dengan bingung. "Apa maksudmu, Revan? Kami... kami hanya butuh sedikit waktu lagi!"

Revan tidak menjawab. Ia terus melangkah, tangannya merogoh sebuah kantong kecil di ikat pinggangnya. Ia mengeluarkan pemberian dukun sebelum mereka berangkat, sebuah catatan tua yang penuh dengan tulisan tangan dan sebuah pecahan batu hitam yang memancarkan aura dingin.

Jor mengernyit. "Apa itu? Revan, apa yang kau—"

Sebelum Jor sempat menyelesaikan pertanyaannya, Revan bergerak dengan cepat. Ia mengangkat belati kecil dari sabuknya, lalu dengan satu gerakan kilat, ia menusukkan belati itu ke dada Jor.

"ARGH!" Jor terhuyung, menatap Revan dengan mata penuh keterkejutan. "KAU... MENGKHIANATI KAMI?!"

"Pengorbanan," ujar Revan datar, menarik belatinya keluar dengan darah mengucur deras. Ia lalu berbalik ke arah Nesa, yang kini berdiri dengan wajah penuh ketakutan.

"Tidak... tidak!" Nesa mundur, darah mengalir dari lukanya, tapi Revan bergerak lebih cepat. Ia menusukkan belatinya ke jantung Nesa, membuat  Nesa langsung terjatuh ke tanah dengan mata melotot.

"Kau... bajingan..." desis Nesa, napasnya tersendat. "Aku akan... membunuhmu..." Tapi kata-kata itu menjadi yang terakhir darinya.

Revan tidak menggubris. Ia berlutut di antara tubuh Jor dan Nesa, tangannya mengoleskan darah mereka ke catatan tua yang ia bawa. Ia kemudian menelan pecahan batu meteor itu, matanya langsung memancarkan cahaya ungu yang menyeramkan. Dengan satu gerakan cepat, ia meminum darah dari tubuh Jor dan Nesa, menenggak cairan itu seolah haus.

Lynx, yang masih berdiri di kejauhan, menyaksikan semua itu dengan mata penuh keterkejutan. "Apa yang kau lakukan, Revan? Mereka adalah rekanmu!"

"Mereka hanyalah alat," jawab Revan tanpa emosi. Ia berdiri perlahan, tubuhnya mulai berubah. Otot-ototnya membesar, kulitnya menghitam dengan corak seperti batu, dan matanya bersinar ungu menyala. Taring panjang mencuat dari mulutnya, sementara kuku-kukunya berubah menjadi cakar tajam.

Leena, yang melihat itu dari barisan belakang, merasa ngeri. "Karim! Apa itu?!"

"Sesuatu yang buruk," jawab Karim, sambil berusaha menahan rasa takutnya.

Revan mengeluarkan suara tawa rendah yang mengerikan, suaranya kini seperti menggema di udara. "Sekarang, kau akan melihat kekuatan yang tidak bisa kau bayangkan. Kau mungkin bisa melawan Jor dan Nesa, tapi aku berada di level yang berbeda."

Revan melompat ke depan dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan Lynx, mengayunkan cakarnya yang besar. Lynx mencoba menghindar, tapi cakaran itu masih berhasil menyayat lengannya, membuat darah segar mengucur.

"Argh!" Lynx mundur, mencoba menangkis dengan parangnya. Tapi kekuatan Revan terlalu besar. Setiap serangan membuat Lynx terhuyung, tubuhnya semakin lemah karena luka-luka yang ia derita.

"Cepat sekali menyerah?" ejek Revan, matanya bersinar kejam. "Aku kecewa. Aku pikir kau lebih tangguh."

Lynx tidak menjawab. Ia mencoba menyerang balik, menebas ke arah dada Revan, tapi kulit baru Revan yang keras seperti batu hanya meninggalkan goresan kecil.

"Tidak ada gunanya," kata Revan, sambil menyerang lagi. Kali ini, cakarnya menghantam dada Lynx, membuatnya terlempar ke belakang. Lynx mendarat keras di tanah, darah menetes dari mulutnya.

"Lynx!" Leena menjerit, lalu mengangkat busurnya. Ia membidik Revan, melepaskan panah dengan akurasi sempurna. Namun, Revan bergerak terlalu cepat. Ia menangkap panah itu dengan tangannya, lalu menghancurkannya dengan mudah.

Leena menggigit bibirnya, matanya penuh kecemasan. Ia menyiapkan panah lain, tapi kali ini Sherly mencegahnya. "Kau tidak akan berhasil," kata Sherly dengan dingin. "Dia terlalu kuat."

"Aku tidak peduli!" balas Leena, air mata hampir menetes. "Lynx butuh bantuan!"

Sementara itu, Revan mendekati Lynx yang masih berusaha berdiri. "Ini akhirnya," kata Revan, suara dinginnya menusuk. "Kau bertarung dengan baik, tapi sekarang... kau harus mati."

Lynx terbaring di tanah, tubuhnya penuh luka dan darah yang mengalir deras dari beberapa goresan. Di atasnya, Revan berdiri dengan tubuhnya yang telah bermutasi, kulit hitam berbatu dan mata ungu yang bersinar tajam. Cakar besar Revan mengangkat Lynx dari tanah, mencengkeram bahunya dengan kekuatan luar biasa.

"Lihat dirimu sekarang," ejek Revan sambil tertawa dingin. "Pahlawan besar Suku Sinto, bukan? Orang yang mengalahkan Kargo, yang membunuh monster kami. Tapi sekarang? Kau hanya pecundang yang bahkan tidak bisa berdiri tegak."

Lynx menggertakkan giginya, mencoba melawan, tapi kekuatannya sudah habis. "Kau... tidak akan menang," gumamnya dengan suara lemah.

"Menang?" Revan tertawa keras, suaranya menggema di seluruh rawa. "Aku sudah menang. Lihat mereka!" Ia menunjuk ke arah kampung Sinto, di mana penduduk bersembunyi dengan wajah penuh ketakutan. "Orang-orangmu bahkan tidak berani keluar dari tempat persembunyian mereka. Mereka tahu tidak ada harapan."

Di sisi lain rawa, sisa prajurit Monrest bersorak, teriakan kemenangan mereka menggema di udara. Mereka melambaikan senjata mereka, bersorak untuk Revan, pemimpin mereka yang kini tampak seperti dewa perang yang tidak terkalahkan.

Revan menatap Lynx dengan senyum penuh penghinaan. "Dan kau? Kau bahkan tidak cukup kuat untuk melindungi mereka. Apa yang kau lakukan selama ini? Membual? Berpura-pura menjadi pahlawan? Lucu sekali."

Dengan cengkeraman kuatnya, Revan melempar Lynx seperti boneka kain ke tanah. Tubuh Lynx jatuh dengan keras, menghantam lumpur rawa, napasnya hampir tidak terdengar.

"Berdiri!" teriak Revan sambil mendekat. "Tunjukkan padaku kalau kau masih bisa melawan. Atau mungkin kau hanya akan mati di sana seperti anjing yang lemah?"

Lynx mencoba bangkit, tangannya bergetar saat ia mendorong tubuhnya dari tanah. Tapi sebelum ia sempat berdiri sepenuhnya, Revan menghantamkan kakinya ke dada Lynx, membuatnya terjatuh lagi.

"Kau selesai," ujar Revan, matanya bersinar dingin. "Dan aku akan memastikan itu."

Di dekat pagar perkampungan, Leena menyaksikan dengan mata penuh horor. Air matanya hampir mengalir melihat Lynx yang tidak berdaya. "Aku tidak bisa hanya berdiri di sini," gumamnya. Dengan tangan gemetar, ia mengambil tombak kayu yang tergeletak di dekatnya, lalu berlari ke arah pertarungan.

"LEENA, TIDAK!" teriak Maret, kepala suku, tapi Leena tidak mendengarkan. Ia berlari dengan penuh tekad, menembus barisan musuh yang bersorak.

Revan menoleh saat Leena mendekat, tombak terangkat tinggi. "Apa ini? Bantuan? Sungguh menyedihkan."

Leena mengayunkan tombaknya dengan seluruh kekuatannya, menusuk langsung ke punggung Revan. Tapi tombak itu hanya terpantul dari kulit berbatu Revan, bahkan tidak meninggalkan goresan. Revan tertawa keras.

"Begitu mudah putus asa?" katanya sambil memutar tubuhnya. Dalam satu gerakan, ia menghantamkan lengannya ke arah Leena, memukulnya hingga tubuhnya terlempar ke tanah. Leena terjatuh keras, punggungnya menghantam tanah, darah segar mengalir dari sudut bibirnya.

"LEENA!" Lynx berteriak, matanya penuh kemarahan dan ketakutan. Ia mencoba bangkit, tapi tubuhnya terlalu lemah.

Revan mendekati Leena yang terbaring lemah, wajahnya penuh penghinaan. "Kau ingin menyelamatkannya?" tanyanya sambil tertawa dingin. "Sayangnya, kau bahkan tidak bisa menyelamatkan dirimu sendiri."

Leena, yang terbaring tak berdaya, mencoba berbicara, tapi suaranya nyaris tidak terdengar. Revan mengangkat cakarnya, bersiap untuk menyerang.

"Lynx," gumam Leena pelan, air mata mengalir dari matanya. "Maafkan aku…"

Tepat saat itu, sinar matahari menerobos awan, memancar langsung ke arah tubuh Lynx yang terbaring di tanah. Ia merasakan kehangatan itu, tubuhnya yang lemah mulai merespons. Di tengah rasa sakitnya, ia mengingat latihan sebelumnya, ketika ia hampir mati mencoba menyerap energi dari matahari.

"Aku harus melakukannya lagi," gumam Lynx, tangannya gemetar saat mencoba mengumpulkan energi. "Aku tidak bisa membiarkan dia mati."

Lynx menutup matanya, membiarkan sinar matahari menyelimuti tubuhnya. Panas yang menyakitkan mulai meresap ke dalam kulitnya, tapi kali ini ia tidak berhenti. Ia memaksa energi itu berkumpul, menahannya meskipun tubuhnya terasa seperti terbakar.

Perlahan, tangan Lynx mulai bersinar, berubah menjadi putih keperakan yang menyilaukan. Panas itu terkumpul seperti bola energi, memancarkan cahaya yang semakin terang.

Revan menoleh, matanya menyipit melihat cahaya itu. "Apa yang kau lakukan sekarang?" tanyanya dengan nada mengejek. "Trik lain?"

Lynx berdiri perlahan, meskipun tubuhnya bergetar hebat. Ia mengangkat tangan kanannya yang kini dipenuhi energi. "Ini... akhirnya," katanya pelan, matanya penuh tekad.

Revan tertawa. "Kau pikir itu akan cukup? Aku lebih kuat darimu dalam segala hal!"

Tapi sebelum Revan sempat menyerang, Lynx melepaskan pukulan jarak jauh. Energi putih keperakan melesat seperti cahaya, menghantam tubuh Revan dengan kekuatan yang luar biasa. Tubuh Revan terlempar jauh, menghantam tanah dengan keras.

"ARGHHH!" Revan berteriak, matanya melebar tidak percaya. Tubuhnya mulai retak, energi ungu dari tubuhnya memancar keluar. "Tidak... ini tidak mungkin..."

Dalam hitungan detik, tubuh Revan meledak menjadi abu, meninggalkan keheningan di medan perang.

Lynx terjatuh ke lututnya, napasnya berat. Ia segera mendekati Leena yang terbaring tak bergerak. Dengan tangan yang masih memancarkan sedikit energi, ia menyentuh tubuh Leena, menyalurkan sisa kekuatannya.

"Leena, bangunlah," gumamnya.

Beberapa detik kemudian, Leena membuka matanya perlahan. "Lynx?" suaranya pelan, tapi penuh kehangatan.

Lynx tersenyum kecil, matanya berkaca-kaca. "Aku berhasil. Revan sudah mati. Aku berhasil menggunakan kekuatanku. Pukulan itu kuberi nama... Pukulan Matahari."

Lynx terbaring di sebelah Leena, tubuhnya terasa seperti dihancurkan dari dalam. Napasnya berat, tapi ia tetap tersenyum saat melihat Leena mulai sadar. Ia tahu, pertarungan melawan Revan telah selesai, tapi ia juga menyadari kekuatan besar yang baru saja ia gunakan tidak bisa terus diandalkan.

Leena, meskipun masih lemah, mencoba duduk dengan susah payah. "Lynx... kau benar-benar melakukannya." Suaranya pelan tapi penuh kekaguman. "Kau membunuhnya."

Lynx mengangguk pelan. "Dia tidak memberi kita pilihan. Dia ingin menghancurkan semuanya... kau, desa ini, semuanya." Ia menunduk, matanya menatap tanah. "Aku tidak akan membiarkannya terjadi."

Di kejauhan, penduduk Sinto yang sebelumnya pasrah dan ketakutan mulai keluar perlahan dari tempat persembunyian mereka. Maret berdiri dengan hati-hati, menatap ke arah Lynx dan Leena dengan tatapan tidak percaya.


